Mengenal Ego Setyawan, Pemuda Sidoarjo Bikin Dapur Para Tetangga Tetap Ngebul!
SIDOARJO | Barometerjatim.com – Di saat banyak pemuda desa merantau, Ego Setyawan (36) pemuda kelahiran Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, lebih memilih merajut asa dari kerasnya batangan kawat besi.
Lewat bengkel las sederhana yang didirikan di Desa Mergosari, Kecamatan Tarik, dia tidak hanya membangun sebuah usaha tetapi juga membuat dapur-dapur para tetangganya tetap ngebul.
Ego adalah potret nyata pemuda desa berjiwa pelopor. Di tengah keterbatasan akses dan minimnya fasilitas, dia melihat potensi besar yang terpendam di sekitar desanya bukan hanya dari sisi sumber daya, melainkan dari tangan-tangan terampil warga lokal yang selama ini kehilangan arah mata pencaharian.
Dari situlah dia merintis usaha pembuatan perlengkapan rumah tangga berbahan dasar kawat, mulai dari tempat alat makan yang higienis hingga tempat alat mandi dan dapur kokoh yang kini mulai diminati pasar luar desa.
"Awalnya hanya usaha rumahan, namun saat ini alhamdulillah orderan semakin banyak," ujarnya, Senin (3/8/2026).
Eko mendirikan usaha bukan sekadar mencari keuntungan pribadi. Dia sadar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) harus mampu memberi dampak sosial bagi lingkungan sekitar.
"Jika orderan sedang ramai bisa sampai 50 orang yang kerja, namun jika sedang berada di bawah mungkin hanya 10-15 orang saja yang kerja," terangnya.
Dia memberdayakan para pemuda dan warga desa sekitar, yang sebelumnya pengangguran atau hanya mengandalkan pekerjaan serabutan. Tanpa menuntut syarat pendidikan yang tinggi, Ego merangkul mereka dan mengajarkan keahlian mengelas serta membentuk besi secara telaten.
"Alhamdulillah, dengan pola warga sekitar yang kerja bisa menciptakan ikatan kekeluargaan yang erat di dalam bengkel, sehingga bisa membantu nafkah mereka di rumah juga," jelasnya.
Merintis usaha dari bawah tidak membuat Ego abai terhadap aturan. Dai mengurus legalitas usahanya secara sah dengan mendirikan perusahaan perorangan sesuai dengan bidang usahanya.
Langkah ini diambil agar usaha ini memiliki payung hukum yang jelas, memudahkan kerja sama dengan mitra bisnis yang lebih besar, serta membuka peluang untuk naik kelas.
“Sebagai pelaku usaha, kita ingin tenang dalam berproses. Legalitas melalui PT Perorangan ini adalah bentuk komitmen kami bahwa usaha kecil pun harus taat hukum dan profesional," ungkapnya.
Kendati roda usahanya berputar dan mulai menembus pasar yang lebih luas, Eko menyadari perjalanan masih panjang. Dia dan tim kecilnya di desa masih memiliki keterbatasan, terutama dalam hal manajemen keuangan modern, teknik pemasaran digital, hingga inovasi desain produk agar bisa bersaing di era digital.
Karena itu, dia sangat berharap adanya uluran tangan dan pendampingan nyata dari dinas terkait, baik dari dinas perindustrian, koperasi, maupun UMKM setempat.
"Kita berharap agar ada pendampingan, agar usaha ini berjalan sesuai dengan aturan yang ada dan mampu sukses dikemudian harinya," ucapnya.{*}
| Baca berita Wirausaha. Baca tulisan terukur Syaikhul Hadi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur