Legislator Turun Tangan, Nenek di Sidoarjo Akhirnya Terima Jadup dari Baznas!
SIDOARJO | Barometerjatim.com – Senyum lega menghiasi wajah Tumisah, warga Desa Tambak Kalisogo, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo.
Di tengah keterbatasan hidup dan kondisi tubuh yang semakin lemah, nenek 78 tahun itu akhirnya mendapat bantuan Jatah Hidup (Jadup) dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sidoarjo.
Bantuan sebesar Rp 625 ribu setiap bulan tersebut diberikan secara berkala dan disalurkan melalui rekening bank syariah. Diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama cucunya, Guntur Adi Putra (16).
Bantuan diserahkan Baznas Sidoarjo bersama anggota Komisi D DPRD Sidoarjo, Kasipah, Jumat (4/9/2026). Selain menyerahkan uang tunai, juga diberikan tabungan sebagai sarana penyaluran bantuan Jadup secara berkala.
“Alhamdulillah. Hari ini kami bersama Baznas Sidoarjo menepati janji kami untuk membantu keluarga Mbah Tumisah. Semoga bantuan ini dapat meringankan keluarganya,” ujar Kasipah.
Dia menjelaskan, bantuan Jadup merupakan tindak lanjut dari kunjungannya ke rumah Tumisah, Jumat (14/8/2026). Saat itu, Kasipah melihat secara langsung kondisi kehidupan Tumisah yang cukup memprihatinkan.
“Alhamdulillah sudah ditindaklanjuti oleh Baznas. Mbah Tumisah ini layak untuk mendapatkan bantuan Jatah Hidup, mengingat kondisi ekonominya,” katanya.
Cucu Kehilangan Ortu
Kisah kehidupan Tumisah tidak lepas dari Guntur, cucunya yang kini masih duduk di kelas XI SMK Walisongo Pasuruan.
Guntur merupakan anak dari Supriatin, putri Tumisah yang telah meninggal dunia bersama suaminya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu. Sejak kehilangan kedua orang tuanya, Guntur tinggal bersama sang nenek.
Kondisi tersebut membuat Tumisah harus menjalani kehidupan dengan beban yang tidak ringan. Di usianya yang sudah 78 tahun, dia harus memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus keberlangsungan pendidikan cucunya. Sedihnya lagi, kondisi kesehatannya semakin menurun. Tidak leluasa berjalan seperti dulu.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selama ini banyak ditopang keluarga, terutama cucu pertamanya, Mar'atus Sholihah. Bantuan dari tetangga juga sesekali datang, namun tentu saja tidak bisa menjadi sandaran untuk memenuhi kebutuhan setiap hari.
Lebih lanjut, Kasipah menjelaskan, Tumisah sebenarnya sudah menerima Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial. Namun dinilai belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya bersama Guntur.
“Untuk makan berdua saja nilai bantuan PKH ini tidak mencukupi, apalagi untuk biaya sekolah cucunya. Untungnya, dengan bekal SKTM, tanggungan biaya sekolah cucunya bisa diangsur dari nilai tanggungan jutaan rupiah yang ada,” jelasnya.
Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas, Guntur tetap berusaha melanjutkan pendidikannya. Dia bersekolah di SMK Walisongo Pasuruan. Jarak sekolah lebih dari 10 kilometer dari rumah membuat perjalanan menuju sekolah menjadi tantangan tersendiri.
Guntur juga tidak memiliki sepeda motor. Terkadang menumpang bersama keluarga atau teman untuk berangkat sekolah.
“Naik motor gandengan sama anaknya si Mar'atus Sholihah, itu kan juga sekolah di Walisongo. Kadang-kadang kalau sepeda motornya rusak ya diantar, kadang numpang,” ungkap Niken, tetangga Tumisah.
Persoalan lain yang tak kalah berat yakni tunggakan biaya pendidikan. Karena bersekolah di sekolah swasta, kebutuhan Guntur tidak hanya berupa SPP, tetapi juga daftar ulang, praktik, dan kebutuhan pendidikan lainnya.
“Tunggakannya banyak banget, lebih dari Rp 2 juta. Sekolah swasta, SPP sama daftar ulang, terus karena SMK ada praktik-praktik juga,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Kasipah. Dia pun berkoordinasi dengan Baznas Sidoarjo agar setidaknya kebutuhan hidup Tumisah dapat terbantu melalui Jadup.
Sedangkan untuk persoalan pendidikan Guntur, Kasipah berencana berkoordinasi dengan Hari Yulianto, anggota DPRD Jawa Timur sekaligus Ketua DPC PDIP Sidoarjo guna mencari jalan keluar agar Guntur tidak sampai putus sekolah.
“Semoga nanti ada solusi yang baik untuk masalah tanggungan pendidikan yang dialami Guntur ini,” tambahnya.
Kasipah menilai, persoalan yang dialami Guntur juga menjadi gambaran tantangan pendidikan bagi sebagian warga kurang mampu di Kecamatan Jabon.
Menurutnya, daya tampung sekolah negeri di wilayah tersebut belum sebanding dengan jumlah lulusan SMP. Kondisi itu membuat sebagian siswa akhirnya harus mencari sekolah di luar Sidoarjo.
“Di Jabon hanya ada satu sekolah SMKN, sedangkan jumlah siswa yang lulus SMP sangat banyak di Jabon sehingga tidak tertampung,” kata Kasipah.
“Nah, karena persoalan zonasi ini akhirnya Guntur memilih sekolah di Pasuruan, yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya,” imbuhnya.{*}
| Baca berita DPRD Sidoarjo. Baca tulisan terukur Syaikhul Hadi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur