Adhy Karyono Turunkan Kemiskinan Jatim Sentuh 1 Digit, 5 Tahun Tak Bisa Dilakukan Khofifah!

| -
Adhy Karyono Turunkan Kemiskinan Jatim Sentuh 1 Digit, 5 Tahun Tak Bisa Dilakukan Khofifah!
SATU DIGIT: Kemiskinan di Jawa Timur pada Maret 2024 sebesar 9,79% atau turun 0,56%. | Sumber: BPS Jatim

SURABAYA | Barometer Jatim – 5 bulan menjadi Penjabat (Pj) Gubernur Jatim sejak dilantik pada 16 Februari 2024, Adhy Karyono menorehkan prestasi yang tak bisa dilakukan Gubernur Jatim sebelumnya, Khofifah Indar Parawansa selama 5 tahun. Apa itu? Menurunkan angka kemiskinan menyentuh 1 digit!

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, jumlah penduduk miskin di Jatim pada Maret 2024 sebanyak 3,983 juta orang (9,79%) atau turun 0,206 juta orang (0,56%) terhadap Maret 2023.

“Dari seluruh program yang dilakukan dan perkembangan-perkembangan makro yang ada di Jatim, kami dapat menyampaikan bahwa kemiskinan pada Maret 2024 untuk pertama kalinya menyentuh 1 digit dengan kondisi 9,79%,” beber Kepala BPS Jatim, Zulkipli saat menyampaikan rilis di kantornya yang dihadiri Adhy Karyono, Senin (1/7/2024).

“Tentu apresiasi untuk Bapak Pj Guburnur dan seluruh jajaran yang sudah berupaya, sehingga untuk pertama kalinya kemiskinan di Jatim mencapai 1 digit,” tandasnya.

Dengan 0,56%, lanjut Zulkipli, Jatim mengalami penurunan kemiskinan tertinggi di Pulau Jawa pada Maret 2024. Disusul Banten 0,33%, Jawa Tengah 0,30%, DI Yogyakarta 0,21%, Jawa Barat 0,16%, dann DKI Jakarta 0,14%.

Diwarisi Khofifah 10,35%

Melihat capaian tersebut, kinerja Adhy Karyono dan jajarannya selayaknya diapresiasi karena sebelumnya dalam 5 tahun Jatim dipimpin Khofifah kemiskinan tidak pernah turun ke 1 digit.

Simak baik-baik statistiknya. Pada Maret 2019, Khofifah diwarisi Gubernur Jatim sebelumnya, Soekarwo alias Pakde Karwo kemiskinan sebanyak 4,112 juta orang (10,37%). Lalu pada September 2019 turun menjadi 4,056 juta orang (10,2%), tapi kemudian pada Maret 2020 naik tajam menjadi 4,419 juta orang (11,09%) dan terus naik menjadi 4,580 juta orang (11,46%) pada September 2020.

TERTINGGI SE-JAWA: Penurunan kemiskinan Jatim pada Maret 2024 tertinggi di Pulau Jawa. | Sumber: BPS Jatim

Setelah itu turun sedikit menjadi 4,573 juta orang (11,4%) para Maret 2021, terus turun menjadi 4,250 juta orang (10,59%) pada September 2021, dan semakin turun menjadi 4,180 juta orang (10,38%) pada Maret 2022, tapi kemudian naik lagi pada September 2022 menjadi 4,240 juta orang (10,49%).

Di ujung jabatan Khofifah, kemiskinan masih sebanyak 4,189 juta orang (10,35%) pada Maret 2023. Namun usai perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu lengser dan 5 bulan Jatim dinakhodai Adhy Karyono, kemiskinan baru bisa turun menyentuh 1 digit menjadi 3,983 juta orang (9,79%) pada Maret 2024.

Target Turun Jadi 9,4%

Menanggapi data terbaru BPS, Adhy Karyono menyampaikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah ada penurunan sebesar 0,56% dibandingkan Maret 2023 yang mencapai 10,35%,” ujarnya.

Adhy pun semakin optimis, bukan hanya kemiskinan yang turun menjadi satu digit tapi bakal mampu menghilangkan kemiskinan ekstrem di akhir 2024.

Capaian luar biasa tersebut, lanjut Adhy, tidak lepas dari intervensi dalam bentuk program penanggulangan kemiskinan yang dikemas dalam Jatim Satya (Jatim Sejahtera dan Mulia).

Dijelaskannya, ada tiga strategi yang membuat Jatim secara perlahan-lahan mampu menurunkan angka kemiskinan.

Pertama, memenuhi kebutuhan dasar dan mengurangi beban pengeluaran berupa PKH Plus, Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas (ASDP), Pembiayaan Kesehatan untuk Masyarakat Miskin (Biakesmaskin) Pendidikan Gratis Berkualitas (Kantistas) melalui Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP).

“Realisasi pemanfaatan PKH pada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Jatim sudah mencapai 98,51% periode Maret-April 2024,” ujarnya.

KEMISKINAN: Zulkipli (kanan) dan Adhy Karyono saat rilis BPS Jatim terkait kemiskinan. | Foto: Brometerjatim.com/ICAL

Kedua, meningkatkan pendapatan berupa program Pemberdayaan Usaha Perempuan (Jatim Puspa), program Pemberdayaan Ekonomi Kolaboratif, Inklusif, Berkelanjutan, Mandiri dan Sejahtera (Peti Koin Bermantra).

Kemudian program Kredit Sejahtera (Prokesra), bantuan permodalan untuk Bumdesa, bantuan usaha untuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan bantuan usaha untuk Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE). 

“Penyaluran kredit UMKM pada triwulan I 2024 mencapai Rp 217,79 triliun atau tumbuh 7,39% secara year on year. Kinerja penyaluran kredit UMKM skala mikro tercatat tumbuh 10,82% dan kinerja penyaluran kredit UMKM skala kecil tumbuh 4,90% secara year on year,” tuturnya.

Ketiga, mengurangi wilayah kantong-kantong kemiskinan berupa rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) bekerja sama dengan Dinas PU Bina Marga, Kodam V/Brawijaya dan Lantamal V, kemudian jambanisasi serta program elektrifikasi.

“Angka kemiskinan yang menurun menunjukkan upaya penanggulangan kemiskinan di Jatim dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi. Baik secara ekonomi makro maupun intervensi program dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi Jatim di atas 5% pada 2024,” jelasnya.

Adhy menambahkan, target menurunkan angka kemiskinan berdasarkan patokan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) sebesar 9,4% bisa terwujud karena program masih harus diselesaikan hingga Desember 2024.

“Tahun 2025 memulai dengan program yang baru namun desainnya sudah mulai terlihat. Kita meyakini mampu meraih target RPJPD di 2025 sebesar 9,4% karena pergerakan kita semakin bagus,” ucapnya.{*}

| Baca berita Kemiskinan. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.